Kamis, 27 September 2007

Silver Bay Chinese Evergreen

As we become garden shut-ins until spring, houseplants suddenly hold more interest. If you haven’t noticed, there’s a minor revolution occurring in the houseplant world as new hybrids of old favorites greet us each time we prowl the isles of our local garden centers.
Sebuah favorit lama yang tidak begitu menarik pehatian genetic tranformasi, Aglaonema atau Chinese Evergreen mempunyai ratusan nama yang sudah terdaftar, saya hanya terpusat perhatian saya pada Silver Bay Aglaonema.One to undergo a genetic transformation is the old favorite, the Aglaonema or Chinese Evergreen. Though there are about a hundred named introductions now listed, I will just focus on one, Silver Bay Aglaonema.
Silver Bay Aglaonema adalah salah satu hybridanya Dr. Jae Henny dari Stasiun reserch Universitas Apopka Florida. Henny adalah anggota spesialis pemngembang-biakan family Philodendron. telah bekerja sejak tahun 1980 dan telah meluncurkan sekurang-urangnya 6 hybrida Aglaonema baru, 4 Anthurium, 10 hibrida Dieffenbachia. Dan ia masih mempunyai lainnya dalam penyelidikan.Silver Bay is one of Dr. Jake Henny’s hybrids from the University of Florida’s Apopka foliage research station. Henny, who specializes in breeding members of the philodendron family, has worked as a foliage breeder since 1980 and has released at least six Aglaonema hybrids, four Anthuriums, ten Dieffenbachia hybrids. He has others in the pipeline.
Silver Bay diperkenalkan tahin 1992, dan menjadi populer dengan sebutan $585 Florida Foliage Industri. Tujuan pengembang Henny adalah memperkenalan tanaman Aglaonema terbesar yang mempunyai daun yang unik dengan patron bervariasi, tangkai yang bagus dan suhu sangat toleran. pendek kata ia sedang mencari tanaman yang mudah bagi penggemar untuk memproduksi dan mudah untuk dijual dipasaran tanaman.Silver Bay, released in 1992, has become popular in the $585 million Florida foliage industry. Henny’s breeding goals are to introduce larger Aglaonema plants that have unique leaf variegation patterns, good basal branching and cold tolerance. In short, he’s looking for plants that will be easy for Florida foliage growers to produce and easy for retail nurseries to sell.
Silver Bay besar, tanaman tinggi besar yang dapat mencapai 30 inci tingginya dan 36 inci melebarnya bila ditanam di pot yang berukuran 12 inci. Panjang daun sepanjang 1 kaki dan lebar 4 inci dengan petiole sepanjang 5 inci. Di tengah daun terisi warna abu-abu pekat dengan dikelilingi wana hijau dan abu-abu selang-seling mengikutu alur yang bagus, Tangkai daun adalah typical seperti spesies lainnya dengan percabangan yang baik.Silver Bay is a large, robust plant that will reach about 30 inches tall and 36 inches across when grown in a 12-inch pot. The leaf blade is a foot long and 4 inches wide with the petiole about 5 inches long. The inner portion of the leaf is a field of solid grey with the outer third of he leaf marked with a patchwork of alternating tones of green and grey. The canes are typical for the species with good basal branching.
Henny adalah pengembang pertama yang memanvaatkan hormon pertumbuhan di sebut gibberellic acid (GA) dalam program pengembangannya. Bunga Aglaonbema, tapi bunga tida bisa diduga kapan adanya dan dengan spesies yang sedang ngetrend di musim yang berbeda. Tapi setelah penyemprotan GA sekali saja, bunga akan keluar setelah tiga atau empat bulan, mempermudah perhatian kita terhadap bunga yang akan diprogram perkawinannya atau pengembang-biakannya.Henny was one of the first breeders to take advantage of a plant-growth hormone called gibberellic acid (GA) in a controlled breeding program. Aglaonemas flower, but flowering is unpredictable and with different species blooming at different seasons. But, after a single GA spray, flowers appear in three to four months, making it easier to concentrate bloom for use in his breeding program.
Begitu bunga terbentuk, ia segera ingin mengetahui karakteristik yang terjadi dari Chinese Evergreen tersebut. Setelah satu seri proses persilangan, ia menemukan bahwa varitas pola/patron daun dipengaruhi oleh single gin yang sangat dominan. Tapi apabila varitas induk dengan chromosome yang heterozygous yang dipakai, biji-biji yang dihasilkan akan merupakan varietas gabungan antara kedua induk tersebut. Dari pengalaman ini, ia dapat mengidentifikasi induk-induk mana yang menghasilkan kualitas yang diharapkan.Once the flowers formed, he set out to understand how certain characteristics were inherited in Chinese Evergreens. After a series of controlled crosses, he discovered that the variegated leaf pattern was due to a single dominant gene. But when variegated parents with a heterozygous chromosome makeup were used, seedlings could be produced that displayed variegation patterns derived from both parents. With this knowledge, he identified parents that would provide the traits he was looking for.
Pengembangan karakteristik varietas daun relatif sangat mudah bagi aglaonema sebab ia segera menampilkan varietas pola daun dewasa begitu daun itu pertama kali muncul/tumbuh. Akan menyita waktu sedikitnya satu tahun untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan percobaan beberapa tahun lagi untuk mengetahui cara yang mudah dan tangguh bagi kepuasan pecinta tanaman ini..Breeding for leaf variegation characteristics is relatively easy in Aglaonema because plants show their adult variegation patterns as soon as the first leaf appears. It takes at least a year of growing to get a feel for what growth form the plant has and several more years of experience to know if it is easy for growers to produce and tough enough for the homeowner.
Chinese Evergreen yang baru ini kemungkinan merupakan hibrida terbaik diantara tanaman-tanaman ukuran menengah. Ia cukup besar dan sangat berpengaruh dalam interior landscape dan cukup kuat untuk hidup di kondisi lingkungannya. Aglaonema asalnya dari daerah musim tropis di Cina Selatan, dimana selama enam bulan adalah musim basah (hujan), dan walauapun musim panas selalu diikuti dengan gerimis.These new Chinese Evergreen hybrids are probably the best of all mid-size foliage plants. They are large enough to have a significant impact on the interior landscape and tough enough to thrive with average household conditions. Aglaonemas are native to the monsoon forests of Southern China, an area where six months of wet, dripping weather is followed by an equally long dry spell.
Karena toleransi terhadap perubahan musim hujan dan panas tapi kenyataanya dia akan hidup dengan baik di lingkungan cahaya yang agak redup, Ia akan menjadi tanaman rumah yang excelent (bagus dan cantik). Silver Bay dapat hidup dalam ruangan dengan pendingin ruangan tapi suhu ruangan normal akan sangat bagus. Hybrida ini akan bercabang-cabang, sehingga akan mengasilkan banyak anak dan akan memenuhi keliling tanaman itu sendiri. Chinese Evegreen adalah salah satu di anatara tanam-tanaman yang bebas gangguan penyakit walaupun mealybug dan spider mites biasanya menyerang tanaman tersebut.Because of their tolerance for both moist and dry conditions and the fact that they will thrive with very low light conditions, they make an excellent houseplant. Silver Bay’s ability to thrive in cooler indoor temperatures is also a real plus. The new hybrids are self-branching, so they produce new shoots to keep the basal stems covered with foliage. Chinese Evergreens are amongst the most pest free plants even though mealybugs and spider mites will occasionally attack them.
By: Gerald Klingaman, retired Extension Horticulturist - OrnamentalsExtension News - December 10, 2004
[http://www.arhomeandgarden.org/_includes/bottom.htm]

Aglaonema - A Favorite Indoor Plant - Chinese evergreen

One of my favorite groups of plants is the aroid family Araceae. This family has brought us so many great and wonderful indoor plants. Everything from Philodendrons, Spathiphyllum, Anthurium, Pothos, Alocasica, Dieffenbachia and Aglaonema, with dozens of others.
Since the 1980's, Anthuriums and Spathiphyllums have received most of the attention of the plant breeders. They've introduced many new varieties, flower colors, sizes and leaf textures.
Now it's the Aglaonemas turn. In the last 5 years about 20-25 new varieties have been introduced. Some have already fallen by the wayside and some of the old varieties are making a comeback.
The Aglaonema has been grown for centuries an has served as a workhorse for the professional plantscaper for the past 30 years or more. Until recently the choices were limited to about 4 varieties. The most popular being "Silver Queen".
Aglaonemas have remained popular even with limited varieties. One downside to Ag's is that they really don't like the cold weather, drafts. Aglaonemas don't like and exposure to low temperatures. This factor alone can simply limit where you can use these tough indoor plants as well as transporting them during the winter.
Many of the new Aglaonemas coming to market are being bred to have one very important characteristic. They must be able to handle much lower temperatures. This alone opens up quite a few new avenues:
There will be more varieties grown
Production cost should be lower since heating bills should be lower
Less chance of cold damage in transport
More places that the Aglaonema could be used inside
More cold tolerance is just one area of improvement as well as:
Many new leaf patterns
Different color combos.
White or cream colored stems
Wider leafs
Taller plants
Fuller plants
and the list goes on.
A couple of varieties to keep on the look out for is Aglaonema "Silver Bay", Aglaonema "Jewel of India" and Aglaonema "Silver Ribbon". They all sucker well which helps them not to get leggy, have good color and handle the cooler temperatures.
Although Aglaonemas have been used for decades indoors, with all the new varieties coming to market this spring it's going to give you a lot more choices indoors. I'm looking forward to seeing what's around the corner.
Make sure you check your local nursery for these new varieties. If they don't have them... all it should take is a simple call to their plant supplier.
Just a plant or two can provide a whole new look inside. One of the best features Aglaonemas have is that they are very versatile and easy to care for... if you know the basics.
Since the aroid family has always been one of my favorites and I started collecting them back in my teen's. They hold a special place in my plant growing history. They are the plants that really taught me "how to grow".
In fact, our second eBook, is devoted Aglaonemas. It covers some of their history, production, old and new varieties, care and disorders. All wrapped up in 80 plus "e-pages" with color pictures, plant specifications and more. It's easy to read (not techie) and written for you, homeowners, plant professionals and garden center personnel.

source.www.plant-care.com

Aglaonema

Take a quick look at the picture, you will definitely recognize a plant you have seen plenty of times. Aglaonema is one of the most favorite indoor plants, as it grows easily with minimum care and is ideal to even the most inexperienced amateur gardener.
Its name is once more totally Greek and its parts are translated as "aglos: shiny nema: string. Regardless of the Greek origin of its name, aglaonemas come from the tropical forests of south-east Asia, from Thailand and Cambodia to Vietnam and Malaysia. The first time aglaonemas crossed their natural borders was around 1900 when the plant was brought to America and has been cultivated ever since. The first new varieties were developed in the 60s; those varieties led to the plants we know today as aglaonemas. However, new varieties are still being developed in the US mainly, the differences being in the color of its leaves.
Aglaonemas belong to the aroids family, together with spathifyllum, dieffenbachia and philodentron. As its "relatives", it has shiny oval-shaped leaves, with jigged edges, fleshy to the touch and with impressive alternations of various tones of green. Its flowers look like small white callas and they produce a few yellow or red fruits. However, the basic reason for cultivating aglaonemas is their wonderful foliage and not its colors. Depending on the variety, its height can easily reach one meter or over.
Care
Aglaonema is one of the most ideal indoor plants. It is very resistant to disease and can be grown in conditions that might "kill" many other indoor plants. It can be easily adapted to different conditions and this trait makes it really easy to care for and as a result makes it very popular.
Aglaonemas can be grown to any degree of lighting, from full-light rooms (filtered - never direct sunlight) to the darkest room of hour home. Of course, the more the light it gets the most impressive the colors on its leaves will be. If your problem is low light, aglaonemas are an ideal choice. Moreover, they can be easily grown together with other plants in the same pot.
Although this is an indoor plant, in warm climates it can be cultivated outdoors as long as you keep it in a shaded area, preferably facing north.
Aglaonemas love it warm and hate abrupt temperature changes and cold drafts. Ideally, temperatures should be between 18-30οC and the change in temperature between night and day should not be more than 10οC. A long time in either too low (<15ο)>35ο) temperatures may lead to yellowing of leaves or falling leaves and it will hinder its development to a great extent. So you're your plant around, to a warmer or cooler location depending on the temperatures and keep it away from drafts, i.e. next to windows or doors. When you decide where to place the pot, remember that temperatures are much lower close to windows than from any other area in your home during winter.
Aglaonemas are not very particular to the soil quality, so any packaged soil is suitable. Make sure though to add some sand into the soil and some pebbles in the bottom of the pot to ensure excellent drainage which is necessary to these plants.
Depending on the specific conditions of your home, watering once a week seems to be adequate. Check the soil before watering and do not let your plant live in soil that is always wet, also do not let it sit in water and always empty any excess water from the tray to avoid root rot. Take care not to let the plant go thirsty because the leaves will wilt and may never recover. You can repot any time of the year avoiding days with extreme heat or extreme cold in order not to stress your plant more than necessary.
As far as humidity is concerned, provide as much humidity as possible either by using a humidifier, or with spraying the leaves. You could also use a pebble tray as we have described in various other articles. Do not worry too much though because aglaonemas can adapt to less humidity than most indoor plants.
Use any liquid or tablet form fertilizer but use approximately ? of the dosage described on the label to avoid damaging the roots or the tips of its leaves. In very young plants, avoid fertilizing until the plant is around 6 months old, while in mature plants you should fertilize 3 times per year (every 4 months). You can easily propagate aglaonemas from cuttings. Cuttings can be placed in water until they grow roots or they can be planted directly into soil. Aglaonemas can grow in water for a long time, provided that you replace the water often and that you carefully remove any algae from the inside of the container. Same as pothos (devil's ivy), aglaonemas can be grown in small glass vases with water that can be placed on your bathtub or on window-sills, creating small tropical areas in minimum space. As we already mentioned, one of its basic advantages is that it is almost disease- and insect-proof. However, to be on the safe side, keep leaves very clean and check often for aphids, thrips, or spider mites that may have affected other indoor plants. You have plenty of good reasons to buy aglaonemas. They are beautiful, easy to grow, hardy, needs no specific care, it adapts easily, is suitable for low light rooms, with quick growth, even in water, extremely easy to propagate . . . what else could you ask for?
Mary Efantimefanti@otenet.gr

www.valentine.gr

Rabu, 26 September 2007

Mengenal Bonsai Sentigi

Keindahan bonsai tak lepas dari syarat dasar tanamannya. Syarat dasar tanaman bonsai adalah memiliki batang yang keras dan berumur panjang untuk proses pembentukan. Bambang Hermanto dari Juanda Bonsai berbagi pengalaman tentang syarat dasar tanaman bonsai yang baik. Ada beberapa favorit jenis tanaman yang biasa digunakan oleh pebonsai sebagai syarat dasar tanaman bonsai. Diantaranya adalah jeruk kikit, asem jawa, beringin, dan sentigi. Dari beberapa jenis yang digunakan, sentigi mempunyai daya tahan lebih baik untuk proses pembentukan bonsai dibandingkan jenis lainnya. Pasalnya, asal tumbuhan keras ini ada di pesisir pantai dengan kondisi yang ekstrim. Faktor daya tahan yang dimiliki jenis sentigi inilah, maka sentigi sering jadi pilihan penghobi, kolektor, dan pembibit. Ini dikatakan Bambang Hermanto, pemilik Juanda Bonsai di Surabaya, yang lebih menyukai tanaman sentigi untuk dikerjakan menjadi bonsai. Ia memilih sentigi sejak tahun 1987. Setelah merasa cocok dan berhasil mengembangkan bonsai dari sentigi, ia pun tak bisa ke lain hati. “Sentigi punya daya tahan yang baik dan gerakan yang bagus. Jadi, cocok dengan karakter saya,” imbuh Bambang. Dilihat dari asal tanaman ini, memang bisa dipastikan kalau sentigi bisa hidup dalam iklim apapun, baik panas maupun dingin. Apalagi untuk kondisi daerah yang panas, terutama di kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Selain mudah dalam perawatan, sentigi juga mempunyai pola gerakan yang bagus, tertutama dari kelenturan batang dan karakter daun yang kecil. Potensi dasar yang sudah dimiliki sangat memudahkan para pebonsai untuk melakukan pengerjaan sesuai dengan keinginan mereka. Dengan mengambil pilihan untuk bonsai sentigi, Bambang mengaku hasil yang didapatkan tidak lagi konvensional. Salah satunya di tunjukkan dari koleksi sentigi bunjin gascado atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai gerakan tarian ke atas dan terjun ke bawah. Dari koleksi tersebut terlihat bahwa karakter batang, dahan, dan ranting yang memanjang diolah, sehingga terlihat pohon sedang menari. Kemudian di salah satu dahan ada yang mengarah ke bawah dengan gerakan melingkar, sehingga disebut terjun. Koleksi lainnya yang diperkenalkan adalah bunjin slanting yang berarti tarian yang condong. Nama tersebut cocok, sebab dari karakter tarian yang khas diperkuat dengan munculnya dahan besar yang condong ke luar dari pot dan meliuk ke atas kembali lagi ke pusat. Dari beberapa koleksi yang dimiliki, terlihat bahwa pria yang baru mendapatkan putra keduanya awal Agustus ini menyukai gerakan tarian dalam pengolahan bonsainya. Selain itu juga didukung oleh jenis sentigi yang memperkuat karakter bonsai miliknya. Menurut Bambang, aliran di dunia bonsai sendiri terdiri dari beberapa karakter, tapi biasanya dipisahkan sebagai konvensional dan non konvensional. Untuk aliran konvensional biasanya menggunakan pohon beringin dengan bentuk mirip payung. Sedangkan untuk non konvensional akan mengambil beberapa teknik gerakan baru seperti tarian maupun patahan. “Semua teknik sebenarnya sama saja, asalkan hasil akhirnya proporsional dan bisa menimbulkan perasaan teduh bagi yang melihat,” tandasnya. Perawatan Mudah Sentigi berasal dari beberapa daerah kepulauan yang tersebar di hampir seluruh Indonesia dan beberapa kepulauan tropis di dunia, seperti Sulawesi Selatan dan negara Afrika. Dengan habitat awal yang berada di wilayah pesisir, menjadikannya sebagai tanaman yang bisa tumbuh dimana saja, meski dengan perawatan dan perlakuan biasa. Wajar apabila perawatan yang dilakukan tidak terlalu sulit, asalkan terpenuhi tiga unsur penting, yaitu air, angin, dan panas yang kuat. Ketiga unsur tersebut mutlak dipenuhi untuk mendapatkan pertumbuhan yang maksimal. Bahkan, masih kata Bambang, sentigi bisa bertahan dengan siraman air yang mengandung unsur garam lebih. Itu bisa kita lihat di lokasi nurseri miliknya di kota Surabaya, dimana air tanahnya sedikit asin. Selain itu udara yang ada, banyak mengandung polusi dari banyaknya kendaraan yang melintas di dekat nurserinya. Namun itu menjadikan satu keuntungan tersendiri. “Sinar matahari dan hembusan angin yang kuat dibutuhkan oleh sentigi,” kata Bambang singkat. Untuk media tanam yang digunakan cukup sederhana, yaitu dengan komposisi dominasi pasir Malang dan pupuk kandang. Pemilihan pasir memang sengaja diambil, karena dilihat dari habitat asli tanaman ini yang berada di pesisir pantai, sehingga kandungan pasirnya cukup besar. Secara rutin media tanam harus disiram dan dijaga agar tetap basah. Ini dilakukan untuk menghindari tanaman kekurangan air. Yang perlu diingat adalah sinar matahari mutlak diperlukan, sehingga disarankan untuk meletakkan tanaman ini di luar ruangan. Penyakit jadi satu hal yang ditakutkan oleh penghobi tanaman hias, termasuk bonsai sentigi. Hama utama yang sering menyerang adalah kutu merah dan ulat yang bisa menghabiskan daun serta menyerang batang. Pada tingkat berat, bonsai yang Anda miliki bisa saja mati. Langkah awal yang dilakukan bila bonsai Anda terkena hama antara lain memisahkan bonsai dengan koleksi lainnya. Ini dilakukan untuk menghindari penularan. Bila hanya satu atau dua tanaman yang terserang sebaiknya dilakukan pembersihan tanpa bahan kimia. Caranya, tentu Anda harus melihat satu persatu bagian bonsai dan membuang kutu dan ulat. Namun bila serangan hama sudah parah dan menyebar pada koleksi bonsai lainnya, cara terakhir tentu dengan menggunkan pestisida. Jangan lupa untuk menggunakannya sesuai dosis, sebab bila berlebih bisa menyebabkan hama tersebut kebal dan lebih sulit untuk dibasmi. Biarkan Tumbuh Liar untuk Hasil Maksimal Untuk pembentukan bonsai sentigi, Bambang menggunakan cara meliarkan dulu tanamannya, supaya mempermudah proses pembentukan. Dari bahan mentah bonsai yang didapat, sebaiknya dibiarkan dulu tumbuh liar untuk melihat gerakannya. Langkah ini diambil menyesuaikan karakter tanaman yang mempunyai dahan memanjang. Setelah terlihat arah dan pembentukan bahan, selanjutnya dilakukan wiring dan purning (pemangkasan) beberapa dahan yang tidak diperlukan. Setelah pengkawatan pertama, tumbuhan diliarkan kembali supaya ketepatan proses pemotongan dan pengkawatannya terlihat. “Kalau kita salah memotong cabang, akibatnya bisa fatal dan pengerjaannya akan lebih sulit,” ujar Bambang. “Bahkan dari beberapa bahan yang dikerjakan ada beberapa yang dijual dengan harga murah, akibat salah potong dahan. Kesalahan tersebut dilakukan saat mulai belajar, tapi sekarang sudah bisa diantisipasi,” tambahnya. Setelah tumbuh liar dari wiring pertama, maka dilakukan purning kedua untuk dahan yang tidak dipakai. Dari proses wiring kedua, maka bonsai sudah memperlihatkan karakter dan selanjutnya perlakuan dilakukan menyesuaikan dengan pertumbuhan pohon. [wo2k] Pasar Andalkan Komunitas Pasar bonsai andalkan komunitasnya, sehingga ia masih laku terjual di pasar. Komunitas bonsai sendiri makin menunjukkan loyalitasnya dengan membuat wadah Perkumpulan Penggamar Bonsai Indonesia (PPBI). Kebetulan Bambang, pemilik Juanda Bonsai, ini menjabat sebagai wakil ketua PPBI Sidoarjo. Salah satu agenda yang sedang digarap adalah merekrut sebanyak mungkin penggemar bonsai, khususnya untuk kelas pemula. Selain itu juga dilakukan pertemuan rutin sebagai ajang tukar ide dan pendidikan bagi pemula. Dengan makin banyak penggemar bonsai, otomatis pasar bursa akan mengikutinya. Di beberapa wilayah yang dinilai memiliki sedikit penggemar bonsai, diusahakan untuk menggelar dan mengikuti pameran tanaman hias. Tujuannya untuk menunjukkan eksistensi bahwa bonsai, penggemar loyal, dan pasarnya masih ada. “Usaha bonsai saat ini memang agak berat, sebab meski pasar ada, tapi tidak besar,” tandas Bambang. Dilihat dari kondisi saat ini, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan oleh pengusaha bonsai, yaitu dengan menggarap semua segmen bonsai atau melengkapi koleksinya dengan tanaman hias yang jadi tren. Misalnya anthurium jenmanii atau adenium. Untuk menyasar semua segmen bonsai, mulai dari bakalan, setengah jadi, bonsai jadi, dan bonsai kolektor masih bisa dilakukan demi kelangsungan usaha. Namun bila menyasar segmen yang luas, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang banyak serta jaringan yang luas. Pasalnya, untuk bakalan bonsai jenis sentigi saat ini banyak diburu, karena menjanjikan hasil yang baik. Bahan di beberapa lokasi yang biasa digunakan oleh pemburu bakalan bonsai sudah banyak berkurang, seperti di Madura, Jember, Sulawesi, dan Sumatera. Sedangkan untuk segmen kolektor, biasanya harus mendapatkan bonsai yang sempurna, yang tidak semua orang bisa melakukannya. [wo2k] http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/09/18/66/#more-66

KRISAN, TANAMAN BUNGA YANG MEMIKAT HATI

Memandang bunga krisan atau seruni yang sedang mekar memang memanjakan mata. Tah salah jika bangsa di Eropa menyebutnya Chrysanthemum, bahasa Yunani yang berarti kuning megah. Bahkan bangsa Jepang mengangkat bunga ini sebagai bunga nasional. Bunga yang diduga berasal dari pegunungan Pyrenea (perbatasan Spanyol dan Perancis) ini memiliki aneka warna, seperti putih, kuning, salem, merah, pink dan violet. Krisan juga mempunyai banyak variasi kelopak: tunggal dan bertumpuk dengan ukuran kecil hingga super besar. Keindahan krisan memikat banyak orang. Di Indonesia krisan lebih popular sebagai bunga potong dan bunga siap pajang yang dijual dalam pot. Tanaman yang masih termasuk keluarga Compositae ini sedikit manja dan membutuhkan perawatan khusus. Masuk akal karena asal krisan dari daerah subtropik yang beriklim dingin, sekitar 17 - 24 derajat C. Krisan biasanya dikembang biakan dengan biji yang sebagian besar didatangkan dari Belanda. Sejauh ini bibit asal biji masih menjadi pilihan utama karena hasil yang seragam, perakarannya kuat dan masa berbunga lebih panjang. Semaikan biji pada media sekam, pasir, tanah berhumus dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Agar media terbebas dari bakteri pembusuk, kukus media sebelum digunakan. Setelah bibit muda memiliki 5-8 lembar daun, pindahkan ke dalam pot atau ke lokasi tanam. Pada masa pertumbuhan krisan harus diberi naungan dan sinar buatan selama 16 jam sehari. Saat kuntum bunga mulai bermunculan, cahaya harus dikurangi 8 jam sehari agar warna bunga tidak pudar dan tangkai bunga tidak memanjang. Pemisahan anakan, sambung pucuk dan stek pucuk cocok untuk menanam krisan yang menggunakan media pot. Stek pucuk disarankan karena lebih cepat menghasilkan bunga dibandingkan bibit yang berasal dari biji atau pemisahan anakan. Caranya, potong pucuk sepanjang 5 - 6 cm. Untuk mempercepat keluar akar, olesi pangkal batang dengan zat perangsang akar/rootone. Tanam di media yang telah disiapkan. Pada masa pertumbuhan (hingga dua bulan) beri pupuk lengkap seperti gandasil, hyponex atau complesal dengan kadar nitrogen tinggi. Ketika tanaman menampakkan kuntum bunga, gunakan pupuk dengan kadar P (fosfat) tinggi untuk merangsang munculnya kuntum bunga. Lakukan pemupukan pagi hari sebelum matahari tinggi agar pupuk tidak menguap. Tanaman krisan sangat rentan terhadap serangan hama. Kutu daun, ulat daun, karat daun dan busuk akar akibat jamur dan bakteri paling banyak dijumpai. Jaga kebersihan media dan lakukan penyemprotan fungisida seperti bonlate atau dithane M45 dan insektisida secara berkala. Budi Sutomo/ http://budiboga.blogspot.com/2006/04/tanaman-hias.html

KOK MAHAL SIH?...

Satu tahun lalu saat rekan saya hobiis aglaonema menunjukkan harga agloanema silangan dari Thailand (nama pasarnya Legacy) Rp 500 rb per lembar daun, saya berkomentar Kaya gini aja kok mahal amat sih?. Saya masih belum bisa menilai secara nalar kenapa harganya bisa setinggi itu. Saya hanya berfikir secara linear hitung dagang dan proses produksi. Tidak mencampurkan nilai estetis, tren dan kelangkaan. Tentunya yang berfikir model saya seperti ini cukup banyak, tapi tidak bagi hobiis. Bagi mereka yang tampak irasionil bagi orang awam amat rasionil bagi mereka. Coba saja tengok harga Anthurium. Tanaman ini sekitar 2-3 tahun yang lalu masih seharga ratusan ribu untuk yang berdiameter 1-1.5m. Tapi sekarang harganya sudah berlevel jutaan atau puluhan juta. Lalu tanaman yang bermutasi atau cacat. Kalau dahulu tanaman ini akan dianggap sakit dan segera dikesampingkan tapi saat ini malah dicari. Harganyapun bisa selangit. Saat ke Nursery teman saya di Bandung, dia membibitkan banyak Pachypodium. Bibit yang sehat dijual keumum dengan harga biasa tetapi yang cacat seperti bakalan menjadi kristata atau warna daunnya bermutasi jadi kuning dia akan kumpulkan dan koleksi. Kelak nantinya harga untuk tanaman ini pasti meningkat. Kriteria Tanaman Mahal (Untuk Para Hobiis) Ada beberapa kriteria tanaman berharga mahal. Utamanya adalah masalah kelangkaan, keunikan, terawat dan tren. 1. Tingkat Kelangkaan Faktor kelangkaan dapat memicu mahalnya tanaman. Kelangkaan ini bisa ditimbulkan dari sulitnya di kembangbiakan, masih sedikit yang menjual karena tidak tren atau tanaman banyak tapi penjualnya tidak mau melepas. Jadi dapat dikategorikan sebagai langka di pasar dan langka karena sulit dikembangbiakan. 2. Unik Semua tanaman unik dan tidak memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Tapi unik yang dimaksud adalah memiliki ciri khas yang mencolok dan berbeda dari aslinya. Di pasaran dikenal istilah kristata, varigata dan mutasi. Kristata menunjukan kelainan pada titik percabangan yang mengakibatkan terjadinya banyak percabangan dan berbentuk seperti kipas. Varigata adalah bentuk penyimpangan warna pada daun atau batang. Kadang ada juga yang menyebut albino. Kebanyakan tanaman yang varigata dihasilkan dari biji. Mutasi adalah kelainan yang terjadi karena campur tangan alam (penyakit karena virus atau faktor bawaan lain) atau campur tangan manusia. Biasa dikenal dengan rekayasa genetik. Tanaman yang cukup heboh karena adanya rekayasa genetik adalah adenium magic red dragon. 3. Terawat Baik Tanaman yang terawat baik akan memiliki bentuk yang baik dan sehat. Karena terawat maka bentuk daun, batang dan bunga menjadi lebih indah. Tanaman yang mahalpun apabila tidak terawat dengan baik akan berkurang nilainya, semisal Aglaonema yang daunnya rusak pasti tidak dihitung dalam penilaian. Untuk tanaman bunga, apabila dirawat dengan baik maka akan selalu berbunga indah dan rimbun. 4. Tren Seperti halnya fashion, tanaman punya tren sendiri. Ini dipicu oleh ulah media dan juga nursery. Biasanya nursery besar bisa mengontrol putaran tren tanaman. Saat tren turun otomatis tanaman akan turun nilainya. Turunnya nilai bukan karena tanaman tersebut tidak unik atau tidak terawat, tapi mutlak karena hukum pasar. 5. Permintaan Banyak vs Ketersediaan Sedikit Saat sedang tren atau memang langka, maka persediaan biasanya tidak sebanding dengan permintaan. Sesuai hukum pasar maka naiklah harganya. Tapi ini tidak berlaku bagi tanaman yang multiplikasinya bisa cepat seperti adenium. Walau permintaan banyak dan ketersediaan sedikit kadang harga adenium masih bisa dibawah rata2. 6. Memang Tidak Niat Dilepas Pernah saya dengar ada Anthurium dijual seharga 9 digit. Hm... pertanyaan saya adalah apakah kolektor tersebut niat jual? Ada kalanya kolektor merangkap pedagang memang menahan barang koleksinya. Tetapi saat ada yang mau menawar dengan harga yang sangat-sangat pantas, tentulah kolektor pedagang tersebut mau. Membuat Tanaman Menjadi Mahal (Untuk Para Pedagang) Inilah yang paling orang mau lakukan walau tidak mudah melakukannya. Tanaman dapat dibuat menjadi mahal apabila anda mau mengerjakan hal-hal berikut: 1. Merawat tanaman dengan baik Ini adalah mutlak. Tanaman yang terawat baik secara kasat mata akan sangat indah. Walau hanya sekedar tanaman sansievera yang biasa ada di pinggir jalan kalau dirawat dengan baik pasti akan punya nilai yang lebih tinggi. Perawatan adalah dengan memberikan tempat yang baik (pot dan media), melakukan perawatan daun kalau tanaman tersebut punya nilai di daunnya, memberikan pupuk yang tepat, mengganti media saat dibutuhkan dan terus mengecek kesehatan secara berkala. Dalam hal ini juga dapat dilakukan proses pembentukan (semisal adenium) supaya bentuk lebih indah dan kompak. Proses pembentukan ini mencakup pruning, pembentukan cabang dan lainnya. 2. Mengkoleksi tanaman unik dan langka Kalau anda termasuk kolektor yang tidak pernah peduli dengan tren, maka pilihan tanaman unik dan langka menjadi salah satu tujuannya. Kadang tanaman jenis unik dan langka tidak serta merta harganya mahal saat membeli. Pemilihan tanaman unik bisa dilakukan dengan berkeliling di kebun pembibitan tanaman hias. Biasanya bibit unik bisa mulai terdeteksi/prediksi/seleksi saat usia seedling muda. Untuk tanaman langka dapat berburu langsung ke daerah yang bersangkutan. Tanaman langka biasanya sulit ditemukan di nursery biasa. Kalau ada sedikit kenekatan dan modal bisa saja langsung cari ke nursery di luar negeri. Pembelian bisa lewat internet atau langsung kesana. 3. Memprediksi tren tanaman Kalau anda punya insting bagus atau punya relasi yang cukup kuat di media maka prediksi tren tanaman tidaklah terlampau sulit. Kalau tidak punya terpaksa pasang kuping kiri dan kanan apa yang bakalan tren untuk tahun ini. Ingat... tren tanaman biasanya berputar. Jadi kalau ketinggalan tren tidak masalah, toh nantinya (sukur2 tanaman tidak keburu mati) tanaman kita bisa terangkat naik. Baik anda pedagang dan hobiis pasti punya niat yang sama : Menghargai Tanaman. Untuk hobiis menghargai berarti mencintai dan pedagang mungkin lebih senang mengartikan menghargai sebagai membuat harga yang tepat dan menguntungkan :)) Daniel Hendrawan daniel @ daniel@dokterniken.com

www.kebonkembang.com

Jangan Pandang Harganya

Harga tanaman hias tak bisa dibandingkan dengan barang apa pun. Kalimat ini meluncur dari mulut kolektor, pedagang, bahkan pemilik tanaman hias di Surabaya. Alasannya, mahal tidaknya satu jenis tanaman hias bergantung dari selera pembeli. Mungkin tidak masuk akal bibit Anthurium jenmanni yang kini tengah naik pamornya mencapai Rp 500.000. Padahal, usia tanaman tersebut baru tiga bulan dan tingginya sekitar lima sentimeter. Tanaman hias dari famili Araceae tersebut kini paling mahal. Harga anthurium jenis wave of love (gelombang cinta) sekarang kalah jauh dari jenmanni. Bahkan jenmanni cobra satu lembar daun bisa mencapai Rp 4 juta, bahkan Rp 12 juta. Kalangan kolektor, menurut Sekretaris Paguyuban Pedagang Tanaman Hias (P2TH) Syamsul Arifin, umumnya memburu anthurium dan aglaonema. Kedua jenis tanaman hias ini harganya spektakuler karena relatif mahal. Seperti aglaonema tara mencapai Rp 1,5 juta - Rp 2 juta per daun dan widuri Rp 2 juta per daun. Bahkan red of sumatra bisa mencapai Rp 5 juta per daun. Khusus anthurium berbagai spesies yang hanya berupa daun bergelombang serta kekuatan pada warna batang dan daun, harga terus berfluktuasi. Perubahan harga tanaman hias anthurium berbagai jenis seperti pergerakan harga saham di bursa efek, tidak setiap hari, tetapi sudah hitungan jam, kata Bambang Sudoko, pedagang tanaman hias di Margorejo Indah, Surabaya. Oleh karenanya, tak jarang ketika sudah negoisasi dengan calon pembeli, ketika tanaman di antar harga berubah. Bahkan sesama pedagang tanaman hias pun tidak bisa mematok harga karena permintaan jenis anthurium memang tinggi. Bagi peminat yang bukan kolektor harga tersebut mungkin dinilai tidak masuk akal. Gelombang cinta fenomenal Menurut Didik, pedagang tanaman hias di Rungkut Tengah, tanaman jenis anthurium menjadi fenomenal karena daunnya lebar dan bergelombang. Tekstur tulang daun jelas dan tegas. Pembiakan tanaman hias tersebut juga butuh waktu lama, untuk mendapatkan biji paling tidak 9 bulan. Ketika biji mulai ditanam, batang dan daun mulai timbul setelah berumur 9 - 18 bulan. Untuk mendapatkan tanaman yang sempurna perlu diperhatikan media, sinar, dan kelembaban tanah. Harga tanaman hias terutama jenis yang tengah digandrungi memang sering tidak realistis. Apalagi bagi kalangan yang bukan pecinta tanaman, kata Didik. Namun bagi kolektor, nilai tanaman hias berdasarkan perasaan dan naluri. Tingginya harga tanaman hias membuat pedagang harus ekstra hati- hati terutama saat mengikuti pameran. Pasalnya, tanaman hias terutama yang sudah mencapai jutaan rupiah menjadi incaran pengunjung. Maka tak jarang ada tanaman hilang saat pameran. Jadi, memang sulit dipatok, ujarnya sembari menambahkan anthurium gelombang cinta memang benar-benar fonomenal karena tidak hanya membuat kolektor kelimpungan, tetapi juga mampu menyihir masyarakat terutama yang gemar menanam berbagai jenis tanaman hias di halaman rumah. Padahal, jenis tanaman hias yang unggul pada daun yang bergelombang tersebut tidak tahan sengatan matahari. Perlakuan terhadap anthurium dengan eforbia atau adenium sangat menyolok. Sebab, dua tanaman terakhir justru suka sengatan matahari sehingga lebih mudah perawatannya. Memang, diakui Koko, pemilik Grace Nursery Gresik, perubahan tren pada tananam hias begitu cepat. Sekitar tahun 2004, yang booming jenis eforbia dan adenium. Bahkan adenium lokal bisa mencapai Rp 35 juta. Apalagi permintaan tidak hanya dari wilayah Jawa Timur, tetapi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hampir setiap dua minggu saya mengirim adenimum minimal dua truk ke NTB, ujarnya. Harga terjangkau Menggilanya harga tanaman hias mendorong Koko untuk mengembangkan tanaman adenimun dan eforbia dengan harga terjangkau masyarakat luas. Misalnya, seharga Rp 5.000 hingga Rp 20.000 per batang. Alasannya, tidak semua pembeli tanaman hias gila akan jenis yang tengah merajai pasar. Namun, ada konsumen yang cuma sekadar memiliki sehingga harga harus terjangkau semua kalangan. Kendati demikian, ada juga tanaman hias sejenis dengan harga Rp 2,5 juta per batang seperti jenis eforbia jenis chain of love (jalinan cinta). Bagi Yoyok Sujatmiko, pedagang tanaman hias di Sukodono, Sidoarjo, sebagai pedagang dan kolektor, dia rajin mengunjungi pameran tanaman hias. Hampir semua jenis tanaman yang sedang ngetrend dimiliki. Saya siap jual jika tawaran sesuai, ujar Yoyok yang kini memburu anthurium jenis gelombang cinta. Kekurangan bibit jenis tertentu juga salah satu pemicu melambungnya harga tanam hias. Dengan demikian, untuk mendapatkan tanaman hias dengan pertumbuhan yang pesat, secara rutin perlu pemberian fungisida, pestisida tiga kali seminggu, insktisida, dan vitamin B1. Menurut Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya Tri Rismaharini, harga tanaman hias jenis tertentu memang cenderung tidak masuk akal. Cuma biasanya harga mahal untuk jenis tertentu tidak berlangsung lama karena perubahan begitu cepat. Apalagi, pedagang pun semakin kreatif dengan memunculkan tanaman hias satu batang dengan tiga warna kembang atau beberapa jenis daun. Begitu jenis tanaman hias menjadi tanaman massal, seperti eforbia atau adenium, harganya pun langsung melorot. Minat warga Surabaya untuk mengembangkan tanaman hias di rumah terus meningkat sehingga begitu muncul jenis baru, harga pun langsung melambung, katanya. Tingginya minat mengembangkan tanaman hias di rumah dan di kantor tercermin dari semakin banyaknya pedagang tanaman hias yang berkeliling di kompleks perumahan. Pedagang tersebut pun tidak ketinggalan membawa tanaman jenis baru yang tengah digandrungi masyarakat. Para kolektor dan pedagang pun rutin bertemu memperbincangkan tanaman hias yang tengah diminati pasar. Pertemuan sesama kolektor atau pedagang dilakukan secara informal, dan setiap pertemuan muncul harga baru yang cenderung makin fantastis. Di setiap ajang pameran pun para kolektor tak berhenti ber-buru jenis terbaru. Akibatnya, harga semakin sulit dikendalikan. Sementara pengunjung pameran tanaman hias bukan komunitas kolektor, hanya bisa menghela napas panjang saat memelototi harga yang tercantum pada vas. Wuih harga tanaman kok Rp 2 juta, ungkap Ria (35), seorang ibu rumah tangga saat mengunjungi bursa tanaman hias di UPN Veteran Surabaya. Membeli tanaman hias memang tak sekadar memandang harga, tetapi proses pembiakan yang lama serta keunikan. Jadi, harga tanaman hias sangat bergantung selera. Membeli tanaman hias, tidak sekadar memandang harga, tetapi proses pembiakan yang lama serta keunikannya. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/10/jatim/72173.htm

Adenium Oleifolium: Kaya Adenium Ya...

Dari seluruh spesies adenium, adenium oleifolium adalah yang paling jarang terdengar. Orang Indonesia mungkin akan lebih mengenal adenium spesies terbatas pada obesum, arabicum dan somalense. Sama saja dengan di luar negeri. Adenium ini hanya ditemukan di kolektor sukulen atau breeder adenium. Karena tidak ada bayangan, maka saat menerima paket kiriman berisi adenium oleifolium sempat ragu apakah ini benar-benar adenium oleifolium. Overall Look: Oh... begini too :D Adenium tetaplah adenium. Bentuknya ya seperti itu2 saja. Bandingkan dengan spesies Euphorbia yang punya karakteristik yang beda tiap spesiesnya, pun Pachypodium. Tapi adenium ya seperti itulah bentuknya. Tidak heran kalau beberapa ahli tidak menggolongkan adenium kedalam beberapa spesies, hanya satu spesies saja yaitu obesum. Perbedaan utama dibandingkan dengan adenium umumnya adalah warna daun. Warna daunnya hijau silver. Sudah lebih dari 4 bulan semenjak diterima belum menunjukkan tanda2 berbunga. Tapi menurut referensi gambar di internet bunganya berwarna merah pink dengan corong putih. Sejarahnya Adenium ini pertama kali dipublikasikan oleh Otto Stapf pada tahun 1907. Tanaman ini juga punya nama Adenium lugardii, Adenium oleifolium var. angustifolium atau Adenium somalense var. angustifolium. Sebaran adenium ini ada di daerah selatan Botswana, Afrika Selatan dan Timur Namibia. A. Oleifolium yang saya terima ini berasal dari wild collected di Namibia (penuturan penjualnya). Lamaaaaa... Kalau memelihara adenium spesies asli apalagi dari comotan alam (wild collected) harus banyak bersabar. Kalau medianya tidak cocok Adenium sering ngambek, kalau salah pengairan bisa2 terjadi hal yang tidak diinginkan dan kalau salah pemupukan bisa berabe yang berakibat hilangnya tanaman. Pertumbuhannyapun cenderung lebih lambat. Saya punya semua jenis spesies Adenium yang berasal dari wild collected dan semuanya tumbuh alon-alon. Kadang ini membuat kesal. Tapi saya ingat anjuran teman saya di Bandung yang sudah cukup lama menekuni sukulen. Katanya biarkan saja tumbuh seperti adanya. Kalau kelihatan lambat jangan coba2 dipercepat dengan memberikan pupuk atau treatment obat2 perangsang tumbuh. Bisa2 ngambek atau mati. Yang penting kesabaran! Perawatan Media tidak usah mendekati linkungan asalnya, yang penting poros dan agak subur. Saya sendiri menggunakan takaran media pasir malang : pupuk kandang : sekam bakar = 2 : 1 : 1. Penyiraman cukup 1 hari sekali. Sampai saat ini saya baru berani memberikan pupuk npk berimbang setengah dosis sebulan sekali. Kalau anda mendapatkannya dari pembelian di luar negeri maka pada saat anda menerimanya dalam keadaan telanjang. Artinya adenium oleifolium anda dikirim tanpa media dan harus segera disegarkan. Langkahnya mudah saja. Segera pindahkan ke pot yang bermedia lalu diamkan 1 hari di tempat teduh. Ada beberapa teman saya menyarankan untuk segera memberikan air pada saat itu juga, tapi ini riskan. Kenapa riskan? Karena kita tanaman belum beradaptasi dengan baik dengan medianya (itu pendapat saya) dan lingkungannya. Setelah lewat 1-2 hari diteduhkan, maka segera beri air plus vitamin B1. Kalau tidak ada halangan maka 1-2 minggu akar sudah kembali berfungsi. Dan dalam waktu 1 bulan daunnya sudah rimbun. Untuk membungakannya, saya sendiri masih belum tahu caranya. Mungkin apabila semua unsur terpenuhi akan berbunga dengan sendirinya. Hama Karena daunnya juga berbulu, maka hama spider mite adalah musuh utamanya. Kalau sudah kena hama ini warna daunnya tidak cantik dan memudar. Pencegahannya dengan insektisida. Yang saya gunakan adalah Kelthane, sebab yang lain tidak mempan. Selain itu musuh2 lainnya juga hadir seperti kutu putih dan bahkan lalat. Kok bisa lalat? Kembali ini pengalaman pribadi. Entah kenapa lalat2 senang melekat di daun2 adenium oleifolium. Setelah asik melekat disana pasti ada yang ditinggalkannya berupa bintik2 hitam. Makin lama bintik hitam itu makin banyak dan menyebabkan daunnya bermasalah. Untuk membasminya mudah saja, tinggal letakkan sedotan perangkap lalat di dekat Adenium Oleifolium. Penjual Oleifolium Nah kalau bagian ini mungkin bagian yang bikin penasaran. Ada atau tidak penjualnya di Indonesia. Saat ini ada. Tapi pada waktu saya mencarinya 1 tahun yang lalu masih belum ada yang menawarkannya. Saya sendiri baru tahu yang menawarkannya ada di daerah Pamulang. Ada juga kabar di Yogyakarta ada penjualnya. Tapi supaya yakin bahwa yang dibeli itu adalah oleifolium, belilah pada saat sudah berdaun. Jangan beli pada saat gundul daunnya. Kecuali kalau anda membelinya langsung dari Amerika, Afrika Selatan, Belanda atau Jerman. Pasti sesampainya disini sudah gundul. Daniel Hendrawan

sumber.www.kebonkembang.com